Lanjut baca artikel
Kesehatan

Gercep! Puskesmas Sepatan Tangerang Berantas Balita Gizi Kurang

Ade Maulana
228
×

Gercep! Puskesmas Sepatan Tangerang Berantas Balita Gizi Kurang

Sebarkan artikel ini
Gercep! Puskesmas Sepatan Tangerang Berantas Balita Gizi Kurang
Sosialisasi Mantoux Test Puskesmas Sepatan, Kabupaten Tangerang.

KABUPATEN TANGERANG, DELLIK.ID – Puskesmas Sepatan di wilayah Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang terus bergerak memberantas balita gizi kurang melalui sejumlah program kerja di bidang gizi.

Diantaranya yang digelar baru-baru ini, puskesmas melaksanakan pemeriksaan Mantoux test pada balita gizi kurang gizi berkolaborasi dengan petugas TB dan petugas laboratorium.

Kepala Puskesmas Sepatan, dr David Setiawan mengatakan ada 12 balita asal Desa Pondok Jaya yang diperiksa Mantoux Test sebagai deteksi dini penyakit TB.

“Penjaringan kasus TB ini akan terus digerakan sampai ke ibu hamil karena tidak menutup kemungkinan ibu hamil bisa terpapar TB juga,” kata dr David, Minggu (17/05/2022).

Baca juga: Cegah Stunting, Dinkes Kabupaten Tangerang Wujudkan Program Catin Kasep

Sementara Tenaga Pelaksana Gizi di Puskesmas Sepatan, Farida menambahkan kegiatan sosialisasi tentang TB dan dampaknya disampaikan kepada kader posyandu dan ibu balita yang balitanya akan di-Mantoux Test.

“Juga diberikan penyuluhan pencegahan stunting dan kekurangan gizi pada ibu balita,” ujar Farida.

Dalam kegiatan itu juga dilakukan pemberian suplementasi gizi pada balita kurang gizi berupa Taburia.

“Setelah itu dipantau nafsu makan balita itu, nafsu makan meningkat atau tidak,” pungkasnya.

Sekedar informasi, ada beberapa faktor balita kekurangan gizi secara langsung dan tidak langsung. Pertama, faktor langsung. Yaitu penyakit infeksi, maka jenis pangan yang dikonsumsi harus baik secara kualitas maupun kuantitas.

Kedua, faktor tidak langsung. Ini disebabkan, antara lain, karena sosial ekonomi keluarganya, pendidikannya, pengetahuannya, pendapatannya, pola asuh yang kurang memadai, sanitasi lingkungan yang kurang baik, rendahnya ketahanan pangan sampai tingkat rumah-tangga dan perilaku terhadap pelayanan kesehatan. (Ade Maulana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *